aku mulai bingung
Saat ini gue merasa sedang berada di persimpangan lagi. Setelah dulu memutuskan untuk masuk peminatan sosial dan betah banget menjadi anak peminatan sosial, sekarang gue sadar bahwa ini adalah semester terakhir gue dan semester depan tinggal skripsi. Gila yah, betapa waktu itu terbang dan bukan lagi berjalan cepat. Gue mellow banget dan sekarang sadar bahwa tak akan ada lagi kelas peminatan sosial yang hanya berlima (Ol, Nad, Lix, Will, gue kangeeeeen kaliannn). Ngga ada lagi makan rujak di kelas, dateng telat, kuliah di cupncinno, dan terutama Jogjaaaa dan segala kenangan indah di dalamnya: kegilaan William, juteknya Nadya, afek datarnya Felix, gokilnya Ola, kocaknya Mas Ferdy… HUaaaa, I’m gonna miss those things a lottt.
Well, kesan yang ada selama belajar di bidang peminatan sosial adalah hidup itu kejam. Nyaris semua kenyataan sosial yang ada tuh bikin gue ngenes banget, mulai dari anak-anak gakin ypb yang meskipun lucu-lucu tapi kalau dilihat lagi backgroundnya yang miskin bikin gue ngenes, temen-temen di STIGMA (Magda, Stella, Wulan, Sisca, Bani, Anto, Heru, Ajat, Yana, Dwi, Toma, Rohili) yang perjuangannya begitu gigih dan hebat (gue angkat topi untuk kalian, teman-teman!) , pengalaman turlap sama Heru yang bikin ngenes juga. Mungkin hal-hal ini yang bikin gue jadi skeptis banget sama kenyataan sosial, dan gue semakin merasa ngga sanggup untuk kerja di bidang ini. Gue sadar bahwa ternyata gue makin insecure kalo harus berurusan dengan hal-hal ini, meskipun di satu sisi gue juga percaya bahwa suatu hari nanti masalah-masalah sosial ini akan bisa tertangani dengan baik. Gimana dong? Bingung… Sementara di sisi lain gue sangat suka bermain musik… Kayaknya damai dan ngga perlu pusing-pusing mikirin masalah sosial… Huhuhu… Aku bingung…